
Badai PHK terus menerpa industri media. Mulai media online, televisi, radio, apalagi cetak. Dalam sebulan ini, ratusan wartawan diberhentikan. “Kebutuhan masyarakat pada informasi tidak berkurang, hanya cara konsumsi dan membayarnya yang berubah,” kata pengamat ekonomi Jerry Marmen. Lalu, apa pemicu badai PHK yang sesungguhnya?
Media gagal beradaptasi dengan tren konten karena terlambat mengadopsi format terkini yang lebih interaktif seperti model video pendek atau podcast yang independen. Pembaca juga meragukan obyektivitas media konvensional karena kedekatan kepentingan politik.
Kalah bersaing dengan konten hiburan yang kian mudah diakses di berbagai platform digital. Perhatian masyarakat terpecah antara berita tradisional dan konten hiburan. Alokasi waktu untuk media konvensional menurun drastis. Artinya pola konsumsi audiens sudah berubah.
Migrasi berjamaah ke media sosial membuat pendapatan iklan media konvensional anjlok. Iklan terpusat di platform digital tertentu seperti Google dan Meta yang menguasai 60% lebih pasar iklan global. Daya tarik mereka iklannya bisa diarahkan ke pasar yang spesifik.
Biaya operasional media konvensional sangat tinggi, tapi pendapatan anjlok. Monetisasi dan sistem langganan berbayar tidak terlalu sukses. Sedikit yang berhasil. Apalagi pembaca di Internet banyak yang pakai fitur pemblokir iklan. Pendapatan dari iklan online terbatas.
Agar terus hidup, bertahan dan berkembang, media wajib mengurangi ketergantungan pada iklan tradisional dan diversifikasi pendapatan lewat webinar berbayar konten eksklusif. Buat konten yang sesuai kebiasaan generasi digital. “Yang terpenting bangun kepercayaan melalui jurnalisme berkualitas dan independent,” kata Jerry Marmen.
