
JAKARTA, SWARAMU.ID – Kampus Muhammadiyah memang didirikan ormas Islam. Tapi, mahasiswanya tidak selalu muslim. Apalagi harus Muhammadiyah. Sekitar 83% mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang nonmuslim. Di Universitas Muhammadiyah Malang, 20% mahasiswanya nonmuslim. Penganut semua agama ada. “Bahkan penganut aliran kepercayaan ada,” kata Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik kepada SWARAMU.ID di Malang pada 3 Mei 2025.
Muhammadiyah punya 3.334 lembaga pendidikan. Ada 1.904 SD, 1.128 SMP, 558 SMA, 554 SMK, 83 universitas, 28 institut, 54 sekolah tinggi, 6 politeknik, dan 1 akademi. Siswa dan mahasiswanya tidak selalu muslim, terutama di perguruan tingginya.
Mahasiswa nonmuslim di kampus Muhammadiyah juga berprestasi. Candra Aditya Nugraha contohnya. Dia mahasiswa UMM saat terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) periode 2024-2026. Sekarang dia sudah lulus.
Bupati Jayapura Mathius Awoitauw (2012-2017 dan 2017-2022) dan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano (2011–2016 dan 2017-2022) itu alumni SMP Muhammadiyah Jayapura. Ada pakar komunikasi, Ponijan Liaw yang alumni SD dan SMP Muhammadiyah 17 Desa Pon, Sei Bamban, Serdang Bedagai, Sumatra Utara.
Inklusivitas kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah ini harus didorong ke lembaga pendidikan di bawahnya. “Mulai dari PAUD, pendidikan dasar dan menengah ini juga harus didorong,” kata Nazaruddin Malik. Ini komitmen Muhammadiyah mencerdaskan bangsa.
Kalau inklusivitas perguruan tinggi bisa dilakukan juga di pendidikan dasar dan menengah, ini mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai ormas yang inklusif. “Menjaga inklusivitas itu juga menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
